Hakikat Bahasa

Apa yang dimaksud dengan Bahasa?
Banyak pakar yang membuat defenisi tentang Bahasa dengan pertama – tama menonjolkan segi fungsinya, seperti Sapir (1221:8), Badudu (1989:3), dan Keraf (1983:16). Namun ada beberapa pakar yang tidak menonjolkan fungsi, tetapi menonjolkan “sosok” bahasa seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983, dan juga dalam Djoko Kentjono 1982). Ia menjelaskan “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”. Oleh karena itu, bahasa tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti, tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, hingga kita belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada didunia ini (Crystal 1988:284).

Ada 10 Hakikat Bahasa :
  1. Oral.
    Oral adalah bunyi. Ciri bahasa adalah bunyi. Berdasarkan pengalaman berbahasa yang paling umum pada manusia adalah berbicara dan menyimak-bunyi.
    HURUF
    NAMA
    A a
    A
    B b
    Be
    C c
    Ce
    D d
    De
    E e
    E
    F f
    Ef
    G g
    Ge
    H h
    Ha
    I i
    I
    J j
    Je
    K k
    Ka
    L l
    El
    M m
    Em
    N n
    En
    O o
    O
    P p
    Pe
    Q q
    Ki
    R r
    Er
    S s
    Es
    T t
    Te
    U u
    U
    V v
    Fe
    W w
    We
    X x
    Eks
    Y y
    Ye
    Z z
    Zet
  2. Sistematis.
    Kata sistem dapat kita artikan sebagai `cara`atau `aturan`. Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sistemis adalah bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem bawahan. Ibarat sepeda : kerangka, stang/kemudi, roda, ban, rantai, dan lain – lain . . .
  3. Arbitrer.
    Kata arbitrer bisa diartikan sebagai
    - sewenang-wenang
    - berubah-ubah
    - tidak tetap
    - mana suka
    Yang dimaksud dengan istilah arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ciri arbitrer ini tampak pada hubungan antara lambang dan yang dilambangi dalam pengertian bahwa tidak ada hubungan langsung antara lambang dan yang dilambangi.
    Perhatikan! : Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kerbau sebagai sejenis `binatang` memamah biak yang biasa diternakkan, rupanya seperti lembu tetapi besar, umumnya berbulu kelabu`. Dari definisi itu kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [kerbau]. Mengapa tidak dinamakan [bauker] atau [bakeru] atau lambang lainnya. Begitu juga dengan angin. Kita tidak dapat menjelaskan hubungan antara bunyi [angin] dengan benda yang dilambangkannya sebagai `udara yang bergerak`.
  4. Konvensional.
    Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut bersifat konvensional. Bahasa itu dikatakan konvensional sebagai sifat kesepakatan bersama. Hal yang perlu dipahami adalah kenyataan bahwa kesepakatan itu bukanlah formal yang dinyatakan melalui musyawarah, sidang rapat, atau kongres, atau rapat raksasa untuk menentukan lambang tertentu. Walaupun peraturan tentang lambang itu tidak ada, namun setiap pemakai bahasa harus tunduk kepada kesepakatan atau konvensi itu. Disadari atau tidak, pemakai bahasa sudah melakukan itu. Kalau tidak dipatuhinya, dan menggantikannya dengan lambang yang lain, maka komunikasi akan terhambat. Bahasanya menjadi tidak bisa dipahami oleh penutur bahasa Indonesia lainnya dan berarti pula dia telah keluar dari konvensi itu.
  5. Unik dan univer.
    Setiap bahasa memiliki ciri khasnya sendiri yang tidak terdapat pada bahasa lain. Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem yang lainnya. Bahasa Madura memiliki ciri khas dalam bahasanyanya yaitu pada bentuk pengulangan kata, misalnya lon-alon, nak-kanak, reng-oreng dan lain-lain. Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, pada setiap bahasa terdapat unsur bunyi yang terpilah menjadi dua, yakni vokal dan konsonan. Bukti lain dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang namanya kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Walau pembentukan satuan-satuan itu mungkin tidak sama, maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa itu.
  6. Beragam.
    Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Ragam bahasa bermacam-macam bergantung pada dasar klasifikasinya. Mengenai ragam bahasa ini, ada tiga istilah yang harus dipahami, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek ialah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya.

    Pertanyaan         : Kalau setiap orang memiliki idoleknya masing-masing, maka apakah berarti idiolek itu menjadi banyak?
    Jawaban              : Ya, memang demikian, bila ada 1000 orang penutur maka akan ada 1000 idiolek dengan cirinya masing-masing yang meskipun sangat kecil atau sedikit cirinya itu, tetapi masih tetap menunjukkan idioleknya. Dua orang kembar pun memiliki warna suara berbeda yang menandai idioleknya.

    Dialek ialah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Dialek dapat dibagi berdasarkan wilayah/daerah pemakaiannya dan dialek berdasarkan kelompok masyarakat pemakainya. lisan dan ragam tulis. Ragam ialah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.Untuk situasi formal digunakan ragam- ragam baku atau ragam standar; untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Dari sarana yang digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulis.
  7. Berkembang.
    Perkembangan bahasa yang sangat mencolok pada saat ini terdapat pada unsur leksikon/ kosakata. Masih ingat bahasa-bahasa Gaul (Prokem), kekinian, atau kosakata serapan dari bahasa asing? Itu adalah salah satu bentuk bahasa itu berkembang.
    Perhatikan!:
    Gaul
    A : Eh, kemaren gue abis diputusin.
    B : Ciyus miapah lho udah putus?
    A : Eh, gue punya mobil baru lho!
    B : Terus gw harus bilang wow gitu kalo lo punya mobil baru?
    Kekinian
    Bini – Istri
    Laki – Suami
    Dukun – Tabib
    Serapan dari Bhs. Asing
    Akses
    Departemen
    Kalkulator
    Legislatif
    Standar
    Transportasi
    Dan lain – lain . . .
  8. Produktif.
    Bahasa dikatakan bersifat produktif karena bahasa itu terus menerus menghasilkan. Artinya, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.
  9. Dinamis.
    Bahasa merupakan fenomena sosial. Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Kita tidak dapat memisahkan bahasa dari kebudayaan, sebab hubungan antara keduanya sangat erat keterikatannya. Dalam kehidupan, kegiatan dan aktifitas masyarakat tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, dan menjadi tidak statis. Inilah yang kita sebut bahasa itu dinamis, artinya selalu mengalami perubahan. Perubahan itu terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik.
  10. insani.
    Bahasa dikatakan bersifat insani karena hanya manusialah yang memiliki bahasa. Bahasa merupakan suatu aspek perilaku yang bisa dipelajari hanya oleh manusia. Walaupun binatang juga menggunakan bahasa, namun binatang tidak dapat menggunakan lambang-lambang bahasa untuk menyatakan pikirannya. 
Download :
“Belajarlah secara mandiri—berusaha secara maksimal untuk menjadi Linguis yang handal. Siapa lagi, kalau bukan Anda”
Semua isi dari konten diatas pada ZULHAFIZH,S.Pd., M.Pd.
    DISCLAIMER: Konten yang ada di blog ini tidak seluruhnya saya tulis sendiri. Diperkenankan mengambil isi konten sebagian atau seluruhnya tanpa izin.

    4 Responses to "Hakikat Bahasa"

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel