Perbedaan Menjadikan Indonesia Satu

Muhammad Dioz
1510731001

Ramainya isu penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur non aktif Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau yang akrab disapa ahok oleh masyarakat memunculkan gejolak di kalangan umat Islam.

Bermula dari unggahan video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang beredar di Media Sosial, yang di dalam pidatonya terdapat beberapa perkataan Ahok mengenai Al-Qur’an yang bagi sebagian kalangan di anggapp menistakan isi Al-Qur’an. Hal ini berdampak besar bagi sebagian umat Islam, bisa dilihat dari demo besar – besaran yang di namai Aksi Bela Islam 4 November 2016 yang kemudian diikuti dengan ditetappkannya Ahok sebagai tersangka. Tidak berhenti disitu, mereka yang belum puas dengan status tersangka Ahok merencanakan demo susulan yang lebih besar lagi untuk menuntut Ahok agar di tahan, mereka menyebut demo ini dengan Aksi 212.

Berbagai polemik seakan membumbui masalah ini, mulai dari status Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, etnis beliau sebagai keturunan China, hingga Agamanya. Pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab mengambil keuntungan dalam perkara ini dengan mengadu domba dua Agama di Indonesia ini, agama mayoritas dengan minoritas. Istilah Aktor Politik muncul sebagai sebutan terhadap orang – orang ini. Namun hal yang telah terjadi rasanya belum cukup untuk mereka, tujuan utamanya seakan menyingkirkan Ahok dari bursa pemilihan Gubernur Jakarta Februari mendatang. Namun Ahok pun tidak gentar menghadapinya status tersangkanya tidak mempengaruhi posisinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, beliau tetap kokoh dan meminta pendukungnya untuk memenangkannya dalam satu putaran.

Masyrakat tentu mempunyai pandangan mereka masing - masing terhadap perkara ini, khususnya umat Islam sendiri. Kepala boleh sama hitam namun pemikiran pasti berbeda – beda, ada yang marah besar terhadap Ahok, ada yang simpati terhadapnya bahkan ada yang tidak peduli sama sekali dengan masalah ini karena menganggap terlalu banyak intrik dalam masalah ini.

Nah, menurut penulis sebagai umat Islam sendiri dan warga Indonesia yang baik dan taat kepada Al-Qur’an dan Undang – Undang Dasar 1945 alangkah bijaksana jika kita tidak menelan bulat – bulat kabar – kabar yang beredar di berbagai media. Masalah ini butuh pemahaman terhadap konteks tafsir Q.S Al-Maidah ayat 51 dan kata – kata Ahok sendiri. Jika kita tidak memiliki kapasitas untuk menilai masalah ini dengan benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Jika kita asal berkoar di media bisa – bisa kita sendiri yang kena akibat perkataan kita memunculkan permusuhan baru lagi, nanti bisa di kenai pasal tentang UU ITE yang baru diresmikan. Sebagai masyarakat yang taat hukum marilah kita ikuti dan kawal proses hukum yang bergulir pada kasus ini.

Menurut penulis alangkah baiknya jika kita tetap menjaga keharmonisan hubungan umat beragama di Indonesia, menjaga kebhinekaan Negara Kesatuan Repulik Indonesia agar tetap kokoh dan berdiri tegak. Masalah ini bahkan memunculkan pertentangan di antara umat Islam sendiri akibat penafsiran yg berbeda dari ayat tersebut dan diluar itu pertentangan antara kaum mayoritas dan minoritas. Jika hal ini terus terjadi yang untung dari perkara ini bukan salah satu dari pihak – pihat tersebut, namun pihak luar yang mengambil keuntungan dari masalah ini. Dengan terjadinya keretakan atau bahkan perpecahan di Indonesia pihak – pihak luar akan mengambil keuntungan disini baik itu di bidang politi atau bahkan ekonomi. Mereka akan tertawa di atas perpecahan kita nantinya jika hal ini tetap terjadi.

Mari megingat kembali sejaranh berdirinya Indonesia, Indonesia yang kita cintai ini tidak berdiri dalam satu malam layaknya kerajaan impian di dongeng – dongeng. Indonesia bisa berdiri karena pertarungan dan perjuangan panjang lebih 3.5 Abad lamanya dari jajahan para penjajah. Berkat perjuangan para pahlawan yang telah mermandikan keringat, bercucuran darah bahkan kehilangan nyawa demi lahirnya Indonesia tercinta ini. Tentu kita tahu para pahlawan tercinta kita bukan berasal dari satu atau dua agama saja, pejuang kita berasal dari berbagai agama, suku, bahasa dan latar belakang yang berbeda. Alangkah bodohnya jika kita menghancurkan perjuangan mereka hanya karna masalah ini. Mari kembali belajar dari mereka, mereka tanpa melihat status atau agama saling membantu untuk menghancurkan para penjajah, jangan sampai kita kembali dijajah karna persatuan kita hilang. Kembali penulis ingatkan yang akan untung dari masalh ini bukan pihak yang berseteru namun mereka yang menyaksikan dan mengambil keuntungan, kita yang berseteru akan sama – sama rugi.

Indonesia dikenal sebagai negara yang beragam, ada ratusan suku , ratusan bahasa daerah, dan ribuan pulau di Indonesia ini dan dari berbagai keragaman itu kita tetap hidup sejahtera, aman dan damai di dalam perbedaan itu. Masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahannya meskipun dengan orang yang tidak mereka kenal, hal ini yang membuat negara lain iri dengan kita.

Kembali ke pokok permasalahan masalah yang dikemukakan tadi, setelah apa – apa yang di jabarkan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada alasan untuk kita sebagai umat beragama dan bangsa Indonesia untuk membenci satu sama lain, untuk menjadi terpecah. Mari kita tetap satu, tetap rukun dan bahagia.

Hidup Indonesia yang beragam dan sejahtera.

1 Response to "Perbedaan Menjadikan Indonesia Satu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel