Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah

Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah
Bagi sobat yang sedang mencari Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah sobat dapat membacanya pada postingan kali ini.

Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah

A. karakteristik Sejarah

1. Pengertian Sejarah

Dalam bahasa inggris sejarah dikenal dengan sebuah history yang berasal dari bahasa yunani "Istoria" yang berarti ilmu. Dalam perkembangannya kata "Istoria" diperuntukkan bagi pengkajian terhadap segala sesuatu mengenai manusia secara kronologis. Dalam bahasa jerman, kata sejarah disebut dengan geschichte yang berarti "sesuatu yang telah terjadi". Berikut ini beberapa definisi sejarah menurut para ahli.
  1.  Edward Haller Carr
  2. Suatu proses interaksi serba terus antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya atau suatu dialog tiada henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam.
  3.  W.J.S. Purwadarminta
  4. Dalam bukunya dengan judul Kamus Umum Bahasa Indonesia, terdapat 3 pengertian sejarah.
    1. kesusasteraan lama, dan asal-usul
    2. Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau
    3. ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian, dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau
  5. R. Muh. Ali
  6. Dalam buku Pengatar Imu sejarah Indonesia, ia memaparkan 3 arti sejarah tersebut
    1. sejumlah perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa dalam kenyataan sekitar kita.
    2. cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang merupakan realitas tersebut.
    3. ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang merupakan realitas tersebut.
  7. Aristoteles
  8. Aristoteles juga mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut dia juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.

Dari beberapa penjelasan ahli diatas, secara umum dapat kita simpulkan bahwa sejarah itu adalah

  • peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial
  • cerita, kisah, atau catatan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan atau sumber sejarah.
  • ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi pad masa lampau.


B. Ciri-ciri Sejarah

Berikut ini 7 ciri-ciri sejarah antara lain:
  1. memiliki sifat abadi apabila peristiwa tersebut tidak mengalami perubahan dan tetapi di kenang sepanjang masa.
  2. memiliki sifat unik apabila peristiwa itu hanya sekali dan tidak terulang lagi.
  3. memiliki sifat penting apabila peristiwa tersebut dianggap sebagai sebuah momentum.
  4. memiliki objek yang pasti, yaitu kehidupan umat manusia pada masa lalu yang memiliki arti untuk masa kini dan masa yang akan datang.
  5. memiliki metode penelitian ilmiah sistematis dalam usaha mendapatkan kebenaran yang hakiki.
  6. memiliki proses teknis, yaitu keterampilan tertentu untuk menggunakan sarana penelitian dalam usaha memperoleh kebenaran sejarah.
  7. memiliki sistematika penelitian dan penulisan yang spesifik yang berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain di luar sejarah.


C. Unsur-unsur Sejarah

Ada 3 unsur penting dalam sejarah, yaitu

  1. manusia
  2. peristiwa yang dikaji dalam sejarah adalah peristiwa yang menyangkut tentang perilaku manusia sehingga manusia menjadi unsur pokoknya.
  3. waktu
  4. sejarah menyangkut tentang kapan peristiwa itu terjadi karena peristiwa sejarah hanya sekali terjadi.
  5. ruang
  6. sejarah terkait dengan tempat terjadinya peristiwa yang akan menjadi bukti nyata dari suatu peristiwa, misalnya Monumen Lubang Buaya.


D. Ruang Lingkup Sejarah

1. Sejarah sebagai Peristiwa (History as Luen't)

Sejarah sebagai peristiwa merupakan sejarah sebagaimana terjadinya (histoire realite). Tetapi tidak semua peristiwa dapat dikatakan sejarah. Peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai sejarah jika peristiwa tersebut dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain sebagai bagian proses. Antara peristiwa-peristiwa terdapat hubungan sebab akibat dalam konteks waktu, pelaku, dan tempat.
Jadi, sejarah sebagai peristiwa adalah menyangkut peristiwanya itu sendiri yang tidak terulang kembali atau eimmaligh, yaitu unik karena terjadi sekali saja serta bersifat objektif.
Beberapa contoh Sejarah sebagai peristiwa
Perlawanan pattimura(1817)
Proklamasi 17 agustus 1945

2. Sejarah sebagai Kisah (History of Narrative)

Sejarah sebagai kisah diartikan sebagai suatu cerita atau narasi yang disusun berdasarkan ingatan, kesan, atau tafsiran terhadap peristiwa masa lampau.
Sejarah sebagai kisah memiiki ciri-ciri sebagai berikut
  • bersifat subjektif
  • memiliki hasil karya atau ciptaan seseorang
  • memiliki proses berkelanjutan, artinya bahwa suatu peristiwa sejarah yang hanya satu kali terjadi kisahnya dapat ditulis berulang-ulang
  • kisahnya nyata, artinya bahwa kisah yang disajikan oleh penulis merupakan kisah yang ditulis berdasarkan suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, bukan hanya sekedar rekayasa belaka.
Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang dapat terjadi berulang-ulang karena kisah dari suatu peristiwa tersebut dapat ditulis oleh siapa saja dan kapan saja.

3. Sejarah sebagai Ilmu (History as Science)

Sejarah sebagai ilmu berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari proses perubahan kehidupan manusia dan lingkungannya melalui dimensi waktu dan tempat yang disusun menurut sistematika dan metode pengkajian ilmiah. Aspek kajiannya berupa proses perubahan dari aktivitas manusia dan lingkungannya pada masa lalu, sejak manusia belum mengenal tulisan sampai perkembangan mutakhir sekarang ini yang mencakup aspek politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, keagamaan, kepercayaan, geografi, dan lain-lain.
Sebagai ilmu, sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • empiris, berdasarkan pengalaman manusia
  • memiliki objek, yaitu manusia dalam sudut pandang waktu
  • memiliki teori, berisi kumpulan kaidah pokok suatu ilmu. Misalnya teori Nasionalisme, teori challenge and response oleh arnold toynbee, teori Konflik sosial karl marx, dan lain-lain.
  • memiliki metode. Metode penelitian menyebabkan penelitian sejarah bersikap hati-hati dalam membuat simpulan tentang peristiwa masa lampau.
Dengan demikian, sejarah sebagai ilmu hendaknya dapat dipertahankan karena sesungguhnya belajar sejarah adalah mepelajari masa silam yang dapat dijadikan pedoman hidup di masa sekarang dan yang akan datang.
Dibandingkan ilmu lain, sejarah memiliki sifat yang spesifik sebagai berikut,
a. masa lalu dituliskan secara kronoogis (berdasarkan urutan waktu)
b. ada hubungan sebab-akibat (kausalitas)
c. peristiwa sejarah mencakup tiga dimensi waktu, yaitu masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang
d. kebenarannya bersifat sementara (merupakan hipotesis) yang akan gugur bila ditemukan data pembuktian yang baru.

4. Sejarah sebagai Seni (History as Art)

Melalui pendekatan seni, fakta sejarah akan menjadi lebih hidup dan bernyawa. Misalnya dengan membaca novel arus balik karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan perubahan politik yang terjadi di Nusantara pada masa Kerajaan Demak mendominasi Kepulauan Nusantara, ketika bangsa Portugis (Peringgi) menguasai selat malaka.
Unsur-unsur seni dalam penulisan sejarah antara lain adalah
1. intuisi
2. imajinasi
3. emosi
4. gaya bahasa


E. Kegunaan Sejarah

Dalam kehidupan individu, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sejarah memiliki arti yang sangat penting dalam menata kehidupan hari esok. seperti yang dikatakan Bung Karno, "Untuk menjadi bangsa yang besar, kokoh, dan kuat, hendaknya kita harus selalu menggunakan Jas Merah", artinya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Adapun nilai-nilai sejarah yang sangat berarti adalah sebagai berikut,

1. Saran Edukatif

Edukatif berarti nilai yang mengandung unsur pendidikan. Orang sering berkata "Belajar dari sejarah", "Belajar dari masa lalu". Dalam ungkapan tersebut terkandung arti bahwa sejarah memiliki kegunaan yang dapat mendidik kita. Apa yang terjadi pada masa lalu harus menjadi pelajaran buat kita, orang sering menyatakan "ambillah hikmahnya". Hikmah dapat diambil dari apa yang pernah terjadi pada diri kita. Beberapa nilai yang bisa kita ambil dari peristiwa-peristiwa sejarah, seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, kearifan, keberanian, rela berkorban, dan lain-lain. Jadi, sejarah banyak memberikan pengajaran moral.

2. Sarana Inspirasi

Sejarah memberikan inspirasi kepada kita, tindakan-tindakan kepahlawanan dan peristiwa-peristiwa gemilang pada masa lalu dapat mengispirasi kita agar mencetuskan peristiwa yang besar pula. Di Indonesia sejarah yang berfungsi inspiratif seringkali dijalin di sekitar perjuangan para pahlawan pembela kemerdekaan selama masa imperialisme dan kolonialisme Barat.

3. Sarana Rekreasi

Seperti halnya dalam karya sastra yakni cerita atau roman, sejarah juga memberikan kesenangan estetis, karena bentuk dan susunannya yang serasi dan indah. Kita dapat terpesona oleh kisah sejarah yang baik sebagaimana kita dapat terpesona oleh sebuah roman yang bagus.
dengan sendirinya kegunaan yang bersifat rekreatif ini baru dapat dirasakan jika sejarawan berhasil mengangkat aspek seni dari cerita sejarah yang disajikan. Sejarah dapat juga memberikan kesenangan lain kepada kita. Kesenangan ini berupa "wisata intelektual" yang dipancarkannya kepada kita. Tanpa beranjak dari tempat duduk kita dapat dibawa oleh sejarah menyaksikan peristiwa-peristiwa yang jauh dari kita, baik jauh tempat maupun dekat. 

4. Sarana Memberi Kesadaran Waktu

Kesadaran waktu yang dimaksud adalah kehidupan dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan perkembangannya terus berjalan melewati waktu. Kesadaran itu dikenal juga sebagai kesadaran akan adanya gerak sejarah. Kesadaran tersebut memandang peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam bermuara ke masa kini dan berlanjut ke masa depan. Waktu terus berjalan pada saat seorang atau suatu bangsa mulai menjadi tua dan digantikan oleh generasi berikutnya. Bahkan waktu terus berjalan pada saat seseorang atau suatu bangsa hanya bersenang-senang dan bermalas-malasan, atau sebaliknya, seseorang atau suatu bangsa sedang membuat karya-karya besar. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang baik, seseorang akan senantiasa berupaya mengukir sejarah kehidupannya sebaik-baiknya.

5, Memperkokoh Rasa Kebangsaan (Nasionalisme)

Misi penting dalam pengajaran sejarah di sekolah di antaranya adalah menciptakan warga negara yang baik. Salah satu ciri penting dari warga negara yang baik adalah warga negara yang selalu tunduk dan taat terhadap peraturan negara. ketundukan dan kepatuhan ini dapat dibangun dengan cara menanamkan semangat kebangsaan dan rasa memiliki terhadap bangsanya. Pengajaran sejarah memiliki peran yang sangat penting dalam menbangun nasionalisme. Nasionalisme yang diterapkan kepada siswa pada dasarnya merupakan bentuk pendidikan politik dari negara kepada warganya. Setiap bangsa memiliki kecintaan terhadap tanah airnya, memiliki jiwa nasionalisme. Kecintaan kepada bangsa diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsanya. Dengan demikian juga akan memupuk rasa rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

6. Menunjukkan Identitas Nasional dan Kepribadian Suatu Bangsa

Indentitas dan kepribadian nasional terbentuk berdasarkan pengalaman sejarah suatu bangsa yang berbeda dengan bangsa lain. Setiap bangsa memiliki pahlawan atau tokoh yang sangat berjasa bagi kebesaran dan kejayaan bangsanya. Sehingga hal ini dijadikan sebagai sumber identitas yang memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan nasib bangsanya.

Demikianlah Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah semoga dapat membantu tugas sekolah, kuliah, makalah, resume sobat. Terimakasih atas kunjungannya.

0 Response to "Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Ruang Lingkup, dan Kegunaan Sejarah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel