4 Tahapan Dalam Menutut Ilmu

Menurut Wikipedia Indonesia : Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan (Inggris: science; Arab: العِلْـمُ) adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.

1. MEMPERHATIKAN USHUUL (PONDASI-PONDASI ‘ILMIYYAH)


Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullaah- berkata:
  • Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi); maka dia tidak akan sampai (tujuan).
  • Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu sekaligus; maka akan hilang sekaligus pula.
  • Dan juga dikatakan: berdesakkannya ilmu pada pendengaran; akan menyesatkan pemahaman.
Oleh karena itu: maka harus dimulai dengan “Ta’shiil” (penguatan pondasi) dan “Ta’siis” (penguatan landasan) untuk setiap cabang ilmu yang ingin engkau cari; dengan cara penguasaan dasar ilmu tersebut dan ringkasannya melalui seorang guru yang menguasai (ilmu tersebut), BUKAN HANYA DENGAN CARA AUTODIDAK.

Seorang penuntut ilmu juga harus menuntut ilmu secara bertahap. Allah Ta’ala berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا

“Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) dengan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.” (QS. Al-Israa’: 106)

Allah juga berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

“Dan orang-orang kafir berkata: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartiil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqaan: 32).”

[“Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hlm. 25-26)]

2. YANG DIMAKSUD DENGAN USHUUL

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

“Cara menuntut ilmu ini juga penting; agar seorang penuntut ilmu membangun pembelajarannya di atas Ushuul (pondasi-pondasi); sehingga tidak serampangan dan acak-acakan.

Dikatakan: “Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi ‘ilmiyyah); maka dia tidak akan sampai (tujuan)”…Karena Ushuul adalah ilmu, dan masalah-masalah adalah cabang. Layaknya pokok dari sebuah pohon dan dahan-dahannya, jika dahan-dahan tidak berada pada pokok yang bagus; maka akan layu dan mati.

Apakah yang dimaksud dengan Ushuul:
  1. Apakah yang dimaksud adalah dalil-dalil yang shahih?
  2. Ataukah kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip?
  3. Atau kedua-duanya?
Yang dimaksud (di sini) adalah yang kedua. Engkau membangun di atas Ushuul yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan engkau membangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang didapatkan dengan cara tatabbu’ dan istiqraa’ (meneliti) dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah; yang nantinya hukum-hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah kembali kepada (Ushuul) tersebut. Dan ini termasuk hal yang paling penting bagi seorang penuntut ilmu.”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 51- cet. Daarul ‘Aqiidah)].


3. KOKOH DALAM ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:
At-Tsabaat (kokoh); maknanya adalah terus bersabar, tidak bosan, tidak mengambil sedikit dari sebuah kitab, atau sedikit dari sebuah cabang ilmu; kemudian ditinggalkan. Karena inilah yang akan membahayakan penuntut ilmu, dan akan menghabiskan waktunya dengan sia-sia tanpa faedah; jika dia tidak kokoh dalam sesuatu…Orang semacam ini biasanya tidak mendapatkan ilmu, dan kalaupun dia mendapatkan ilmu; maka hanya ilmu tentang beberapa permasalahan, bukan Ushuul (pondasi-pondasi) dari permasalahan-permasalahan tersebut….akan tetapi yang dibutuhkan adalah “Ta’shiil” (penguatan pondasi-pondasi), dan ilmu yang mendalam (kuat).”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 49-50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

4. KOKOH DALAM GURU

Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:

“Dan engkau juga harus kokoh dalam masalah guru yang engkau ambil ilmunya. JANGAN ENGKAU MENCARI YANG SESUAI SELERA: SETIAP PEKAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA), (ATAU) SETIAP BULAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA). MANTAPKANLAH TERLEBIH DAHULU: SIAPA GURU YANG AKAN ENGKAU AMBIL ILMUNYA, JIKA SUDAH MANTAP; MAKA KOKOHLAH (DENGAN GURU TERSEBUT).

Barangsiapa yang kokoh; maka dia akan terus berkembang, dan barangsiapa yang tidak kokoh; maka dia tidak akan berkembang, dan tidak akan mendapatkan apa pun.”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

ditulis oleh: Ahmad Hendrix
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=420013618339520&id=100009926563522

Belum ada Komentar untuk "4 Tahapan Dalam Menutut Ilmu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel